Dalam industri batubara banyak sekali ditemukan istilah-istilah atau
nama –nama yang menyangkut batubara. Istilah-istilah tersebut biasa
muncul dalam kegiatan eksplorasi, penambangan, handling, loading,
transhipment, tender jual beli batubara dan lain sebagainya. Salah satu
istilah atau nama diantaranya adalah parameter kualitas batubara dan
basisnya. Sebenarnya banyak sekali parameter kualitas yang ditentukan
dari batubara tersebut dan juga istilahnya. Diantara istilah tersebut
ada yang group dan ada yang individual. Parameter group contohnya adalah
; Proximate analysis yang di dalamnya terdiri dari parameter :
Moisture, Ash, Volatile Matter, dan Fixed Carbon. Kemudian Ultimate
analysis yang terdiri dari parameter Carbon, Hydrogen, Nitrogen ,
Sulfur, dan Oksigen. Contoh lainnya adalah Ash analysis, Petrographic
analysis, trace element, dan lain-lain. Sedangkan yang bersifat
individual misalnya Calorific Value, Chlorine in coal, HGI, Total
moisture, dan lain-lain.
Masing-masing parameter tersebut
dilaporkan menurut basis yang sudah disepakati oleh dunia
internasional. Fungsinya adalah agar diperoleh suatu bahasa dan persepsi
yang sama dalam menganalisis dan mengevaluasi data-data parameter
batubara . Dengan adanya acuan ini maka tidak akan terjadi persepsi
yang keliru dalam menganalisa dan membaca setiap laporan yang memuat
tentang parameter kualitas batubara.
Secara kuantitative kandungan batubara dibagi menjadi 4 bagian yaitu yang disebut sebagai Proximate. Jadi batubara terdiri dari 1. Moisture, 2. Ash (mineral matter) 3. Volatile Matter, 4. Fixed carbon. Sehingga dalam penentuan proximate ini jumlah persentasinya harus 100 %.
Basis
yang dipakai dari keempat parameter diatas tergantung dari tempat atau
kondisi dari batubara tersebut seperti . Kondisi 1; Apabila yang
dimaksud batubara diatas berada masih dalam seamnya atau masih berada di
dalam tanah, maka moisture yang dimaksud adalah EQM (Equilibrium
moisture) atau MHC (Moisture holding capacity), atau Bed moisture, atau
Inherent moisture (versi ASTM), atau In-situ moisture dan lain lain yang
mencerminkan moisture pada batubara in-situ. Sedangkan parameters yang
lain (ash, VM, dan FC) basisnya dalam moist basis atau in-situ basis.
Kondisi 2; Apabila batubara yang dimaksud adalah batubara yang ada di
stockpile, maka moisturenya adalah TM (Total moisture) dan parameter
yang lain dalam as received basis. Kondisi 3; Apabila batubara yang
dimaksud adalah batubara yang berada di lab yang sudah di air drying
maka moisture diatas adalah Moisture in the analysis sample (versi
ASTM), atau Inherent moisture (versi Australian Standard), atau Air
dried moisture (versi ISO standard).
Jadi secara kuantitative
batubara hanya dibagi menjadi 4 golongan besar seperti digambarkan di
atas. Sedangkan dari empat golongan diatas dibagi lagi menjadi beberapa
parameter lain baik secara kualitative maupun secara kuantitative.
Sebagai contoh dari parameter ASH atau ABU, parameter yang ditentukan
dari ash batubara ini diantaranya ;
1. Kuantitative: Ash analysis (ash constituent), Trace element , dan lain-lain.
2. Kualitative:
Ash fusion, Ash resistivity, dan lain lain. Sedangkan dari gabungan VM
dan FC, merupakan penganalisaan parameter yang paling banyak seperti
Ultimate, Maceral, Calorific value, dan sebagainya.
Pada
prinsipnya semua parameter yang ditentukan dari batubara ketelitiannya
terletak pada sampling, preparasi, dan analisa laboratorium itu sendiri.
Secara filosofi tingkat ketelitian dari ketiga proses tersebut adalah
sebagai berikut.: Sampling = 80 %, Preparasi dan analisa = 20 %. Didalam
preparasi dan analisa lab. itu sendiri terbagi menjadi Preparasi = 80 %
dan analisa lab = 20 %. Hati-hati dalam menerjemahkan filosofi
tersebut, karena banyak yang menafsirkan kurang tepat mengenai filosofi
tersebut. Pembagian persentasi tersebut hanya didasarkan atas tingkat
kesukaran dalam mengulang prosesnya atau kesukaran dalam menentukan
benar atau salahnya proses tersebut, jadi bukan ketelitian pengerjaanya.
Kalau dilihat dari ketelitiannya tentu saja ketiga proses tersebut
harus mendekati akurat 100 %. Yang dimaksud tingkat kesukaran dalam
mengulang proses adalah gambarannya sebagai berikut;
SAMPLING
Sampling
secara umum dapat didefinisikan sebagai; “ Suatu proses pengambilan
sebagian kecil contoh dari suatu material sehingga karakteristik contoh
material tersebut mewakili keseluruhan material”.
Didalam
industri pertambangan batubara, sampling merupakan hal yang sangat
penting, karena merupakan proses yang sangat vital dalam menentukan
karakteristik batubara tersebut. Dalam tahap explorasi, karakteristik
batubara merupakan salah satu penentu dalam study kelayakan apakah
batubara tersebut cukup ekonomis untuk ditambang atau tidak. Begitu pun
dalam tahap produksi dan pengapalan atau penjualan batubara tersebut
karakteristik dijadikan acuan dalam menentukan harga batubara.
Secara
garis besar sampling dibagai menjadi 4 golongan dilihat dari tempat
pengambilan dimana batubara berada dan tujuannya yaitu; Explorasi
sampling, Pit sampling, Production sampling, dan loading sampling
(barging dan transhipment)
Explorasi sampling dilakukan pada tahap
awal pendeteksian kualitas batubara baik dengan cara channel sampling
pada outcrop atau lebih detail lagi dengan cara pemboran atau drilling.
Tujuan dari sampling di tahap ini adalah untuk menentukan karakteristik
batubara secara global yang merupakan pendeteksian awal batubara yang
akan di exploitasi.
Pit sampling
dilakukan setelah explorasi bahkan bisa hampir bersamaan dengan
progress tambang didalam satu pit atau block penambangan dengan tujuan
lebih mendetailkan data yang sudah ada pada tahap explorasi. Pit
sampling ini dilakukan oleh pit control untuk mengetahui kualitas
batubara yang segera akan ditambang, jadi lebih ditujukan untuk
mengkontrol kualitas batubara yang akan ditambang dalam jangka waktu
short term. Pit sampling ini juga dapat dilakukan dengan pemboran juga
dengan channel pada face penambangan kalau diperlukan untuk mengecek
kualitas batubara yang dalam progress ditambang.
Production sampling;
dilakukan setelah batubara di proses di prosesing plant dimana proses
ini dapat merupakan penggilingan (crushing) pencucian (washing),
penyetokan dan lain-lain. Tujuannya adalah mengetahui secara pasti
kualitas batubara yang akan di jual atau dikirim ke pembeli supaya
kualitasnya sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan dan telah
disepakati oleh kedua belah pihak. Dengan diketahuinya kualitas batubara
di stockpile atau di penyimpanan sementara kita dapat menentukan
batubara yang mana yang cocok untuk dikirim ke Buyer tertentu dengan
spesifikasi batubara tertentu pula. Baik dengan cara mencampur
(blending) batubara-batubara yang ada di stockpile atau pun dengan
single source dengan memilih kualitas yang sesuai.
Loading Sampling;
Dilakukan pada saat batubara dimuat dan dikirim ke pembeli baik
menggunakan barge maupun menggunakan kapal. Biasanya dilakukan oleh
independent company karena kualitas yang ditentukan harus diakui dan
dipercaya oleh penjual (Shipper) dan pembeli (Buyer). Tujuannya adalah
menentukan secara pasti kualitas batubara yang dijual yang nantinya akan
menentukan harga batubara itu sendiri karena ada beberapa parameter
yang sifatnya fleksibel sehingga harganya pun fleksibel tergantung
kualitas actual pada saat batubara dikapalkan.
Sampling, preparasi
dan analisa sample batubara dengan berbagai tujuan seperti telah
dijelaskan di atas,dilakukan dengan menggunakan standard – standard yang
telah ada. Dimana pemilihannya tergantung keperluannya, biasanya
tergantung permintaan pembeli atau calon pembeli batubara. Standard yang
sering digunakan untuk keperluan tersebut diantaranya ; ASTM (American
Society for Testing and Materials), AS (Australian Standard),
Internasional Standard, British Standard, dan banyak lagi yang lainnya
yang berlaku baik di kawasan regional maupun internasional.
Berdasarkan metoda pelaksanaannya sampling dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu;
1. Manual sampling
2. Mechanikal sampling
Sedangkan berdasarkan teknis pengambilannya Sampling dapat dibagi menjadi beberapa golongan sebagai berikut;
Core Sampling
- Exploration sampling
- Deep drilling
- Shalow drilling
- Pit sample
- Pit drilling
Channel sampling
- Explorasi sampling
- Outcrop sampling
- Pit sampling
- Seam face sampling
Bulk sampling
- Stasionary sampling
- Stockpile sampling
- Wagon sampling
- Coal truck sampling, Dll.
Moving sampling
- Cross belt sampling
- Stop belt sampling
- Falling stream sampling
- Moving bucket sampling, DLL.
Sampling
batubara merupakan sampling yang tersulit dari semua sampling solid
material. Hal ini dikarenakan batubara merupakan heterogen solid
material. Selain itu parameter yang ditentukan dari batubara memeliki
sifat-sifat penyebaran yang bervariasi. Oleh karena itu dalam melakukan
sampling batubara harus betul-betul mengikuti kaidah-kaidah atau
standard yang digunakan.
Ada 3 faktor yang menentukan bahwa suatu sample dapat dikatakan representative atau tidak, yaitu :
1. Teknik pengambilan sample dan alat yang digunakan
2. Massa /jumlah sample yang diambil
3. Periode atau interval pengambilan.
Untuk
memperoleh sample yang representative, maka ketiga faktor diatas harus
dilakukan dengan baik menurut standard yang digunakan.
Teknik Pengambilan dan Alat yang digunakan
a. Teknik pengambilan sample
Teknik
pengambilan sample harus ditentukan dan disesuaikan dengan kondisi
material yang akan diambil dan alat yang digunakan. Teknik pengambilan
sample yang salah, akan menyebabkan hasil dari sample tersebut bias.
Teknik sampling harus betul betul diperhatikan terutama pada sampling
secara manual.
Sebagai contoh, dalam pengambilan sample dari falling
stream, shovel atau ladle yang digunakan harus masuk ke seluruh stream
batubara. Apabila hanya sebagian stream yang diambil maka sample yang
diperoleh akan bias.
Selain itu yang perlu diperhatikan adalah
muatan sample dalam ladle. Ladle harus terisi sample secukupnya dan
tidak boleh berlebihan (overfill). Pengambilan sample yang overfill juga
akan menyebabkan bias, karena partikel yang besar-besar akan jatuh, dan
sebagian besar sample yang terambil adalah fine coal.
Jadi teknik
pengambilan sample harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, batubara
yang akan diambil samplenya. Seorang sampler yang profesional harus
menguasai teknik sampling yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi
batubara yang akan diambil samplenya.
b. Alat yang digunakan
Selain
teknik pengambilan sample, yang tak kalah pentingnya yang harus
diperhatikan adalah alat yang digunakan untuk mengambil sample tersebut.
Alat yang digunakan untuk melakukan sampling memiliki ukuran dan bentuk
yang ditentukan oleh standard. Penggunaan alat yang tidak sesuai dengan
standard, akan mengakibatkan bias pada sample yang diperoleh dan akan
menyebabkan kesalahan pada hasil analisanya.
Ada 5 jenis alat untuk pengambilan sample secara manual yang biasanya digunakan yaitu :
1.Laddle : Digunakan untuk pengambilan sample dari falling stream
2.Manual Cutter : Digunakan untuk pengambilan sample dari falling stream
3.Scoop : Digunakan untuk pengambilan sample seperti dari bucket WA dsb.
4.Shovel : Digunakan untuk pengambilan sample di stockpile, DT dan lain-lain.
5.Sampling Frame: Digunakan untuk pengambilan sample diatas belt conveyor
Massa / jumlah sample yang diambil
Massa
atau jumlah sample yang diambil tergantung dari ukuran butir atau
particle size dari batubara tersebut. Ketentuan ini juga tergantung pada
standard mana yang diikuti.
Satuan pengambilan sample terkecil
disebut Increment, dan increment-increment digabungkan membentuk satu
gross sample. Berat minimum sample untuk setiap increment tergantung
dari ukuran butir batubara yang disampling, dan mengikuti persamaan
sebagai berikut :
M = 0.06 D
Dimana :
M = Massa / berat per increment (kg)
D = Diameter / particle top size batubara (mm)
Contoh 1 : berat minimum per increment pada manual sampling untuk ukuran batubara top size 50 mm, adalah :
M = 0.06 x 50
= 3.00 kg
Sedangkan untuk berat per increment pada mechanical sampling berlaku persamaan sebagai berikut :
M = C x A / 3.6 V
Dimana :
M = berat per increment (kg)
C = Capacity belt Conveyor(tph)
A = Aperture cutter (m) (min. 3 x top size)
V = Kecepatan belt conveyor (m/det)
Contoh 2 : Berat sample per increment untuk batubara dengan top size 50
mm, dengan loading rate 1000 tph, dan kecepatan belt 4.5 m/s adalah :
M = (1000 x 0.15) / (3.6 x 4.5)
= 9.26 kg
Jumlah increment sample yang harus diambil dari setiap lot batubara tergantung dari tonnase lot batubara tersebut.
Untuk menentukan jumlah sample increment, ASTM memberikan 2 standard perhitungan sebagai berikut :
1.15 Increment untuk satu sampling unit (lot) dengan jumlah lot 1000 ton bagi washed coal
2.35 Increment untuk satu sampling unit (lot) dengan jumlah lot 1000 ton bagi unwashed coal / unknown coal.
Semakin
banyak sample increment yang diambil semakin representative sample
tersebut, namun demikian semakin banyak sample yang dihandle semakin
tinggi juga kemungkinan kesalahan dalam penanganan sample tersebut.
c. Periode / Interval pengambilan
Faktor
ini sangat penting sekali, karena tanpa memperhatikan faktor ini maka
sample yang terambil tidak akan representative walaupun faktor 1 dan 2
telah dipenuhi.
Sebagai contoh, kita mengambil sample loading dengan
teknik yang benar dan jumlah sample sesuai dengan standard. Tapi
pengambilan tersebut dilakukan sekaligus diawal loading, dan sudah
selesai pada saat loading masih terus berjalan sampai beberapa jam lagi
kedepan. Hal ini akan menyebabkan sample yang terambil tidak mewakili
seluruh lot atau batubara yang diloading, karena mungkin saja setelah
selesai pengambilan sample tadi, tiba-tiba kualitas batubara berubah
total dari yang awal-awal diloading.
Oleh karena itu pengambilan
increment sample harus merata dan diambil selama “throughout” poroses
pemindahan batubara tersebut. Dalam istilah sampling cara seperti ini
disebut “ Systematic Stratified Sampling”
PREPARASI SAMPLE
Preparasi
sample adalah pengurangan massa dan ukuran dari gross sample sampai
pada massa dan ukuran yang cocok untuk analisa di Laboratorium.
Tahap-tahap preparasi sample adalah sebagai berikut :
1.Pengeringan udara/Air Drying
Pengeringan
udara pada gross sample dilakukan jika sample tersebut terlalu basah
untuk diproses tanpa menghilangnya moisture atau yang menyebabkan
timbulnya kesulitan pada crusher atau mill. Pengeringan udara dilakukan
pada suhu ambient sampai suhu maksimum yang dapat diterima yaitu 400C.
Waktu yang diperlukan untuk pengeringan ini bervariasi tergantung dari
typical batubara yang akan dipreparasi, hanya prinsipnya batubara dijaga
agar tidak mengalami oksidasi saat pengeringan.
2.Pengecilan ukuran butir
Pengecilan ukuran butir adalah proses pengurangan ukuran atas sample tanpa menyebabkan perubahan apapun pada massa sample
Contoh alat mekanis untuk melakukan pengecilan ukuran butir adalah :
- Jaw Crusher
- Rolls Crusher
- Swing Hammer Mills
Jaw Crusher atau Roll Crusher biasa digunakan untuk mengurangi ukuran butir dari 50 mm sampai 11,2 mm; 4,75 mm atau 2,36 mm.
Roll Crusher lebih direkomendasikan untuk jumlah/massa sample yang besar.
Swing
Hammer Mill digunakan untuk menggerus sample sampai ukuran 0,2 mm yang
akan digunakan untuk sample yang akan dianalisa di Laboratorium.
3.Mixing atau Pencampuran
Mixing / pencampuran adalah proses pengadukan sample agar diperoleh sample yang homogen.
Pencampuran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
a.Metode manual ; menggunakan riffle atau dengan membentuk dan membentuk kembali timbunan berbentuk kerucut
b.Metode Mekanis : menggunakan Alat Rotary Sample Divider (RSD)
4.Pembagian atau Dividing
Proses
untuk mendapatkan sample yang representatif dari gross sample tanpa
memperkecil ukuran butir. Sebagai aturan umum, pengurangan sample ini
harus dilakukan dengan melakukan pembagian sample.
Pembagian dilakukan dengan metode manual (riffling atau metode increment manual) dan metode mekanis (Rotary Sample Divider)
COAL ANALYSIS
Jenis
analisa atau parameter untuk menentukan kualitas suatu batubara banyak
sekali baik analisa fisik atau disebut physical property, chemical
property, pilut scale test, dan lain-lain. Contoh yang masuk kedalam
physical property misalnya ; HGI, Sieve analysis, Drop shatter, bulk
density dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk kedalam chemical property
adalah misalnya Proximate, Ultimate, Ash analysis, dan lain-lain. Dan
beberapa contoh pilot scale test misalnya ; Test Sponcomb, Test burn,
Wet tumble test, dan lain-lain. Begitu banyak test atau analysis yang
dilakukan terhadap batubara dengan tujuannya masing-masing. Setiap test
atau analyisis sudah pasti ada tujuan atau ada yang ingin diketahui.
Ditinjau dari tujuannya, coal analysis dapat dibagi ke dalam dua tujuan
utama yaitu tujuan Study, dan tujuan komersial.
Parameter-parameter tersebut antara lain adalah :
• Moisture
• Ash
• Volatile matter
• Fixed carbon
• Sulfur
• Calorific Value
• Ash Analysis
• Ash Fusion Temperature
• Hardgrove Grindability Index
Moisture
Moisture
di dalam batubara dapat dibagi menjadai dua bagian yaitu inherent
moisture dan extraneous moisture. Dua istilah tersebut di atas merupakan
istilah pengertian bukan istilah parameter. Inherent moisture adalah
moisture yang terkandung dalam batubara dan tidak dapat menguap atau
hilang dengan pengeringan udara atau air drying pada ambien temperature
walaupun batubara tersebut telah dimilling ke ukuran 200 mikron.
Inherent moisture ini hampir menyatu dengan struktur molekul batubara
karena berada pada kapiler yang sangat kecil dalam partikel batubara.
Nilai Inherent moisture ini tidak fluktuatif dengan berubah-ubahnya
humiditas ruangan. Dan moisture ini baru bisa dhilangkan dari batubara
pada pemanasan lebih dari 100 derajat Celsius. Extaraneous moisture
adalah moisture yang berasal dari luar dan menempel atau teradsorpsi di
permukaan batubara atau masuk dan tergabung dalam retakan-retakan atau
lubang-lubang kecil batubara. Sumber extraneous moisture ini misalnya ;
air dari genangan, air hujan, dan lain-lain. Moisture ini dapat
dihilangkan atau diuapkan dengan cara air drying atau pemanasan di oven
pada ambien temperature. Ada yang mengistilahkan untuk moisture ini
adalah Surface moisture atau Free moisture.
Parameter – parameter yang termasuk ke dalam penentuan kadar moisture adalah ;
• EQM / MHC / Inherent moisture / Bed moisture / In situ Moisture
• Total Moisture / as received moisture / as sampled moisture /as despatched moisture
• Air dried moisture / inherent moisture / moisture in the analysis sample
• Transportable moisture limit / flow moisture
Equilibrium moisture
Equilibrium
moisture adalah parameter penentuan moisture sebagai pendekatan untuk
menentukan inherent moisture atau insitu moisture dalam batubara. EQM
ini biasanya ditentukan pada saat explorasi batubara yang kegunaanya
adalah untuk memperkirakan nilai TM pada saat batubara tersebut
ditambang. Nilai EQM ini relative tidak fluktuasi nilainya pada satu
seam yang sama. Selain untuk memperkirakan TM, juga EQM berguna dalam
menentukan golongan atau Rank dari suatu batubara terutama untuk Low
rank coal yang penentuan Ranknya menggunakan nilai calorific value pada
basis mmmf (moist, mineral matter free basis), dimana basis ini
memerlukan data insitu moisture atau EQM. EQM ini adalah istilah
penentuan dalam standard ASTM, sedangkan dalam ISO standard istilah
parameternya adalah MHC ( Moisture Holding Capacity ). Belakangan ini
penentuan untuk inherent moisture ini bisa dilakukan pada sample channel
yang not visible surface moisture dengan prosedur sampling tertentu.
Total Moisture
Total
moisture biasanya ditentukan pada batubara mulai dari explorasi sampai
transshipment. Nilainya sangat penting sekali, karena dalam penjualannya
nilai TM sangat diperhatikan dan menentukan harga dari batubara
tersebut selain berpengaruh pada nilai parameter-parameter lain dalam
basis as received. Dalam explorasi, TM ditentukan untuk menaksir atau
memperkirakan nilai TM batubara in-situ sekaligus untuk menentukan nilai
surface moisturenya dari selisih antara TM dan EQM. Karena TM adalah
jumlah dari EQM dengan Surface moisture. ( TM = EQM + SM ). Selain itu,
nilai TM yang didapat dari sample core pada saat explorasi banyak
digunakan oleh geologist-geologist untuk menampilkan data dalam basis as
received pada saat batubara tersebut belum ditambang. Yang paling
menentukan dalam penentuan TM ini adalah samplingnya, yakni sesaat
setelah sample batubara disampling sesegera mungkin sample tersebut
dimasukan kedalam kontainer yang ditutup sangat rapat sehingga tidak ada
moisture yang masuk atau keluar dari sample tersebut. Apabila ini
terlaksana dengan baik maka nilai TM yang diperoleh dapat dianggap
mewakili nilai moisture batubara yang diambil samplenya tersebut pada
saat dan keadaan batubara tersebut disampling. Prinsip ini biasanya
sulit terlaksana pada sample core dari sample Pit atau bor dalam, karena
dari sample core tersebut masih ada beberapa data yang harus dicatat
dan diamati, sehingga sample tersebut tidak segera dapat dimasukan ke
dalam kontainer yang kedap udara sesaat setelah disampling. Selain itu
pada saat pemboran biasanya menggunakan air selama coring dilakukan,
sehingga kontaminasi batubara tersebut oleh air yang bukan berasal dari
batubara mungkin sekali terjadi. Oleh karena itu nilai TM tersebut
menjadi tidak begitu reliable untuk menunjukan nilai TM batubara
in-situ. Nilai TM yang diperoleh juga biasanya sangat fluktuatif
nilainya.
Pada coal in bulk, nilai TM ini dipengaruhi oleh luas
permukaan batubara (size distribusi ), juga oleh cuaca, sehingga nilai
TM pada coal in bulk relatif fluktuatif seiring dengan keadaan cuaca
atau musim dan size distribusi dari batubara tersebut terutama setelah
di crushing.
Air dried moisture
Sesuai
dengan namanya, air dried moisture adalah nilai moisture batubara pada
saat setelah batubara tersebut diair drying. Nilai moisture ini sangat
penting karena pada dasarnya semua parameter ditentukan pada sample
setelah air drying sehingga basisnya adalah air dried basis. Nilai
parameter dalam basis ini merupakan actual hasil analisa dari Lab.
Sedangkan basis-basis lainya dalam coal analysis merupakan kalkulasi
saja dari nilai-nilai air dried basis ini. Jadi jelaslah bahwa tanpa
nilai air dried moisture, parameter-parameter yang lain tidak dapat
diubah ke dalam basis lainnya. Selain itu nilai ADM ini berpengaruh pada
nilai parameter lainnya pada basis airdried, seperti CV, VM, Sulfur dan
lain-lain. Sehingga nilai ADM menjadi lebih penting lagi apabila
spesifikasi dinyatakan dalam basis air dried.
Transportable moisture limit
Batubara
in bulk yang diangkut dengan menggunakan palka tertutup seperti
kapal-kapal besar, dalam kondisi tertentu yang diakibatkan oleh angin
dan ombak, memungkinkan terjadinya segregasi moisture dan finer coal
dari bulk dan membentuk semacam “liquefaction” dan pada kondisi tertentu
dapat membahayakan kapal tersebut terutama pada stability kapal selama
dalam pelayarannya. Oleh karena itu IMO ( International Marine
Organisation) mensyaratkan untuk setiap kapal yang mengangkut batubara
terutama low rank coal, harus meminta statement dari Shipper mengenai
nilai transportable moisture limit dari batubara yang akan dimuat. Ada
satu metoda yang dikembangkan di National Coal Board (UK) untuk
menentukan nilai TML ini yaitu dengan cara ; Sebanyak 10 kg batubara
dimasukan ke dalam suatu silinder dimana di bawah silinder tersebut
diletakan dua bola tenis meja. Kemudian silinder tersebut diletakan di
atas “Vibrating table”. Penentuan ini dilakukan pada nilai moisture
batubara yang bervariasi. Flow Moisture ditentukan sebagai nilai
moisture pada saat bola tenis meja tersebut masuk naik ke atas batubara
dalam silinder tersebut. Sedangkan TML adalah 90 % dari nilai Flow
moisture tersebut.
Ash Content (AC)
Sebenarnya
batubara tidak mengandung ash melainkan mengandung mineral matter. Ash
adalah istilah parameter dimana setelah batubara dibakar dengan
sempurna, material yang tersisa dan tidak terbakar adalah ash atau abu
sebagai sisa pembakaran. Jadi ash atau abu merupakan istilah umum
sebagai sisa pembakaran. Pada material yang lain mungkin ash ini dapat
mencerminkan langsung mineral matter yang terkandung dalam material yang
dibakar tersebut. Akan tetapi di dalam batubara hal tersebut tidak
selamanya terjadi karena terjadinya reaksi-reaksi kimia selama
pembakaran atau insinerasi batubara tersebut, sehingga nilai ash yang
didapat relative akan lebih kecil dibanding dengan nilai mineral matter
yang sebenarnya. Ada pula yang menggolongkan mineral dalam batubara ke
dalam tiga kategori yaitu ;
• Mineral matter
• Inherent ash
• Extraneous ash
Mineral
matter adalah unsur-unsur yang terikat secara organik dalam rantai
carbon sebagai kation pengganti hidrogen. Unsur ini biasanya ada dalam
batubara pada saat pembentukan batubara yang berasal dari tumbuhan atau
pohon pembentuk batubara tersebut. Unsur yang biasanya ditemukan sebagai
mineral matter ini adalah Kalsium, Sodium, dan juga ditemukan besi dan
alumina pada low rank coal. Inherent ash adalah superfine discrete
mineral yang masih dapat tertinggal dalam partikel batubara setelah
dipulverize. Dan yang ketiga adalah extraneous ash, yang termasuk
kedalam kategori ini adalah tanah atau pasir yang terbawa pada saat
penambangan batubara dan mineral yang keluar dari partikel batubara pada
saat dipulverize. Ketiga jenis ash tersebut sangat tergantung pada
lingkungan pada saat pembentukan batubara serta bahan pembentuk batubara
sehingga memiliki sifat-sifat thermal masing-masing, akibatnya juga
setiap type ash tersebut memiliki kontribusi yang berbeda terhadap
slagging dan fouling. Penentuan di laboratorium yaitu dengan membakar
batubara pada temperature 750 atau 800 derajat celsius sampai dianggap
pembakaran telah sempurna. Dalam prosedure standard temperature dan
waktu pembakaran ditentukan yang nilainya tergantung kepada standard
masing-masing. Penentuan secara prosedure di atas untuk batubara
tertentu yang mengandung banyak pyrite dan carbonat, menjadi tidak
begitu teliti karena selama pembakaran terjadi beberapa reaksi akan
terjadi. Reaksi reaksi yang mungkin terjadi selama pembakaran adalah ;
• Decomposisi Pyrite :
4 FeS2 + 15 O2 ------> 2 Fe2 O3 + 8 SO3
• Dekomposisi Carbonat
CaCO3 + O2 -----> CaO + CO2
• Fixation of sulfur
CaO + SO3 -------> CaSO4
Na2O + SO3 -------> Na2SO4
Dalam
basis dry mineral matter free basis untuk penentuan rank batubara di
ASTM, Ash yang digunakan adalah hasil kalkulasi dimana ash dinyatakan
sebagai ash bebas sulfat.
Volatile Matter
Volatile
matter adalah zat terbang yang terkandung dalam batubara. Zat yang
terkandung dalam volatile matter ini biasanya gas hidrokarbon terutama
gas methane. Volaitile matter ini berasal dari pemecahan struktur
molekule batubara pada rantai alifatik pada temperature tertentu. Di
laboratorium sendiri penentuannya dengan cara memanaskan sejumlah
batubara pada temperature 900 derajat Celsius dengan tanpa udara.
Volatile matter keluar seperti jelaga karena tidak ada oksigen yang
membakarnya. Volatile matter merupakan salah satu indikasi dari rank
batubara. Dalam klasifikasi batubara ASTM, Volatile matter digunakan
sebagai parameter penentu rank untuk batubara high rank coal. Volatile
matter juga memiliki korelasi yang jelas dengan salah satu maceral yaitu
Vitrinite. Apabila volatile matter dalam basis DMMF di plot dengan
reflectance dari vitrinite, maka akan diperoleh suatu garis yang
relative lurus yang korelatif dengan rank batubara. Selain itu pada saat
penentuan di laboratorium, juga dapat digunakan sebagai prediksi awal
apakah batubara tersebut memiliki sifat agglomerasi atau tidak.
Sifat
dalam coal combustion, volatile matter memegang peranan penting karena
ikut menentukan sifat-sifat pembakaran seperti efisiensi pembakaran
karbon atau carbon los on ignition. Volatile matter yang tinggi
menyebabkan batubara mudah sekali terbakar pada saat injection ke dalam
suatu boiler. Low rank coal biasanya mengandung Voloatile matter yang
tinggi sehingga memiliki efisiensi yang sangat tinggi pada saat
pembakaran di power station.
Volatile matter juga digunakan sebagai
parameter dalam memprediksi keamanan batubara pada Silo Bin, Miller
atau pada tambang-tambang bawah tanah. Tingginya nilai volatile matter
semakin besar pula resiko dalam penyimpananya terutama dari bahaya
ledakan.
Fixed Carbon
Fixed
carbon adalah adalah parameter yang tidak ditentukan secara analisis
melainkan merupakan selisih 100 % dengan jumlah kadar moisture, ash, dan
volatile matter. Fixed carbon ini tidak sama dengan total carbon pada
Ultimate. Perbedaan yang cukup jelas adalah bahwa Fixed carbon merupakan
kadar karbon yang pada temperature penetapan volatile matter tidak
menguap. Sedangkan carbon yang menguap pada temperature tersebut
termasuk kedalam volatile matter. Sedangkan total carbon yang ditentukan
pada Ultimate analysis merupakan semua carbon dalam batubara kecuali
carbon yang berasal dari karbonat. Jadi baik hidrokarbon yang termasuk
ke dalam Volatile matter atau fixed carbon termasuk di dalamnya.
Penggunaan nilai parameter ini sama dengan volatile matter yaitu sebagai
parameter penentu dalam klasifikasi batubara dalam ASTM standard. Serta
untuk keperluan tertentu fixed carbon bersama volatile matter dibuat
sebagai suatu ratio yang dinamakan fuel ratio (FC/VM).
Sulfur (S)
Sulfur
didalam batubara sama seperti halnya material yang lain terdiri dari
dua jenis yaitu sulfur organik dan sulfur anorganik. Sulfur organik
biasanya ada dalam batubara seiring dengan pembentukan batubara dan
berasal dari tumbuhan pembentuk batubara tersebut. Dan tidak menutup
kemungkinan juga berasal dari luar tumbuhan yang dikarenakan suatu
reaksi kimia yang terjadi pada saat peatifikasi dan coalifikasi pada
saat perubahan diagenetik dan perubahan kimia. Sedangkan anorganik
sulfur berasal dari lingkungan dimana batubara tersebut terbentuk.atau
dari mineral yang berada disekeliling batubara atau bahkan yang berada
dalam seam batubara yang membentuk parting, spliting, band dan
lain-lain. Sulfur anorganik ini biasanya dibagi lagi menjadi dua jenis
yaitu Pyritic sulfur dan sulfat sulfur. Dalam analysis di laboratorium
sulfur-sulfur ini ditentukan dengan parameter yang disebut form of
sulfur. Dimana laporannya terdiri dari pyritic sulfur, sulfate sulfur
dan organik sulfur. Yang ditentukan di laboratorium dengan test adalah
hanya piritic sulfur dan sulfate sulfur sedangkan organik sulfur
merupakan hasil kalkulasi selisih antara Total sulfur dan jumlah dari
piritic dan sulfate sulfur. Form of sulfur biasa digunakan untuk
memprediksi secara awal apakah sulfur dari batubara tersebut dapat
dikurangi dengan cara separasi media atau washibility density. Organik
sulfur secara teeoritis tidak dapat dipisahkan dari batubara dengan
metoda separasi yang menggunakan dens medium plan atau washing karena
sulfur tersebut terikat secara organik dalam molekul batubara. Sedangkan
anorganik sulfur secara teoritis dapat dihilangkan atau dikurangi
dengan cara separasi media karena termasuk ke dalam mineral matter yang
memiliki density lebih tinggi dibanding batubara. Selain itu pyrtic
sulfur juga digunakan sebagai bahan acuan dalam memprediksi
kecenderungan batubara tersebut untuk terbakar secara spontan pada waktu
penyimpanannya di stockpile. Karena pyritic sulfur dapat mengkatalisasi
terjadinya self heating pada batubara yaitu dengan reaksi oksidasi yang
menghasilkan panas. Selain itu dari reaksi tersebut dapat menyebabkan
disintegrasi partikel batubara sehingga menambah luas permukaan batubara
yang juga dapat menambah kecenderungan batubara tersebut untuk
teroksidasi yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya pembakaran
spontan. Hidrogen disulfida atau FeS2 di dalam batubara terdiri dari dua
type yaitu cubic yellow pyrite dan rombik marcasite. Dan marcasite
inilah yang disinyalir lebih reaktif terhadap oksigen dibanding pyrite.
Dalam
utilisasi di industri, sulfur yang tinggi sangat tidak diharapkan
karena dapat menimbulkan emisi SO2 yang konsentrasinya tidak boleh
tinggi karena dapat menyebabkan hujan asam. Batasan konsentrasi SO2 yang
diijinkan tergantung dari negara dimana industri tersebut berada,
karena peraturan masing-masing negara berbeda. Selain itu SO2 juga
termasuk corrosive constituent bersama chlorine yang dapat merusak metal
dalam boiler.
Analisa reguler yang ditentukan baik untuk explorasi,
produksi, dan shipment adalah total sulfur yang biasanya ditentukan
dengan metoda high temperature method
Calorific Value (CV)
Nilai
Kalori atau Calorific Value adalah jumlah unit panas yang dikeluarkan
per unit bahan bakar yang dibakar dengan oxygen, nitrogen dan oksida
nitrogen, carbondioksida, sulfurdioksida, uap air dan abu padat
Nilai kalori biasanya dilaporkan sebagai :
a.
Gross Calorific Value, adalah jumlah unit panas yang dikeluarkan per
unit bahan-bahan yang dibakar dengan oksigen di bawah kondisi standar.
Disebut juga kalori gross pada volume konstan
b. Net Calorific Value,
adalah konversi secara matematis dari Gross Calorific Value dengan
menerapkan faktor koreksi yang didasarkan pada kandungan hydrogen,
oksigen dan moisture. Biasa disebut sebagai panas pembakaran pada
tekanan konstan dimana air berujud gas.
Penentuan nilai
kalori batubara yang digunakan misalnya dengan alat Calorimeter
dengan sistem Isoperibol. Alat ini menggunakan siklus Isotermik,
dimana secara komputerize, panas yang dihasilkan dari pembakaran
batubara dalam calorimeter tersebut dikonversikan ke dalam satuan
Megajoule per kilogram (MJ/kg) atau Calori per gram
(Cal/g). Jadi secara otomatis nilai kalori dari batubara yang ditentukan diprint out oleh alat kalorimeter tersebut.
Ash Analysis (ASH COMPOSITION)
Ash
pada umumnya terdiri dari ikatan dari logam Silikon, Aluminium, Besi
dan Kalsium serta kondungan lain yang lebih kecil seperti Titanium,
mangan, magnesium, sodium dan potassium dimana semuanya terjadi dalam
bentuk silicates, oksida, sulphida, sulfat dan phospat. Element lain
seperti arsen, copper, timbal, nikel, zinc dan uranium dapat dilaporkan
dalam jumlah yang sangat kecil. Pengetahuan mengenai komposisi
sebenarnya dari ash sangat penting untuk memprediksi karakteristik dan
behaviour batubara jika digunakan dalam berbagai aplikasi di dunia
industri.
Ash Fusion Temperature
Ash
Fusion Temperature menggambarkan karakteristik pelunakan dan pelelehan
ash, dan diukur menurut standar prosedur tertentu dengan cara pemanasan
secara gradual terhadap sample yang sudah disiapkan dalam bentuk cone
untuk selanjutnya diamati profil perubahannya.
Temperatur dicatat pada sifat-sifat yang menunjukkan :
- initial Deformation
- Spherical
- Hemispherical
- Flow
Ash
Fusion Temperature biasa diukur pada dua kondisi yaitu kondisi Reduksi
dan Oksidasi. Pengukuran dalam kondisi Oksidasi selalu lebih tinggi
dibandingkan kondisi Reduksi disebabkan keberadaan beberapa komponen
dalam ash seperti besi oksida yang memiliki perbedaan fluxing effects
pada suasana oksidasi dan reduksi.
Hardgrove Grindability Index (HGI)
Test
ini adalah untuk mengukur kemudahan relatif saat batubara dihancurkan
ke dalam ukuran yang lebih kecil. Semakin tinggi nilai HGI maka semakin
lunak batubara yang berarti semakin mudah batubara tersebut untuk
dihancurkan.
Index ini sangat membantu dalam memperkirakan kapasitas
mill yang digunakan untuk menggiling batubara sampai ukuran yang
diperlukan untuk umpan ke furnace.
BASIS
Basis
adalah dasar yang dipakai untuk menyatakan nilai dari suatu parameter
dan menginterpretasikan nilai tersebut pada kondisi tertentu batubara.
Interpretasi dari basis tersebut sesuai dengan istilah basis tersebut,
misalkan seperti basis basis di bawah ini ;
• As received/as sampled basis (AR) = nilai parameter atau kualitas batubara pada saat batubara tersebut diterima / disampling.
• Air dried basis (ADB) = nilai kualitas pada kondisi batubara setelah di air dried.
• Dry basis (DB) = nilai kualitas pada kondisi batubara kering atau tidak memiliki nilai moisture (moisture free)
• Dry ash free basis (DAF) = nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut kering dan bebas dari ash.
•
Dry mineral matter free basis (DMMF) = menginterpretasikan nilai
kualitas pada kondisi batubara tidak mengandung air dan mineral matter.
•
Moist, mineral matter free basis (mmmf) menginterpretasikan nilai
kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut masih didalam tanah
(in-situ coal) dan tidak mengandung mineral matter,dan lain-lain.
Basis-basis
di atas merupakan basis-basis yang umum atau biasanya dipakai dalam
menyatakan nilai dari suatu parameter kualitas dari suatu batubara.
Selain basis-basis tersebut di atas masih ada beberapa basis lainnya
yang hanya untuk keperluan tertentu saja digunakan seperti misalnya ;
Sulfat free, SO3 free, Ash free, dan lain-lain.
Material yang berada dipermukaan bumi ini sangat beraneka ragam, baik jenis, bentuk dan lain sebagainya. Oleh karenanya alat yang digunakan memindahkanpun beraneka ragam pula., Yang dimaksud dengan material dalam pekerjaan pemindahan tanah (earth moving), meliputi tanah,batuan, vegetasi (pohon, semak belukar dan alang-alang). Sifat phisik yang harus dihadapi alat berat akan berpengaruh besar terutama dalam hal :
1. menentukan jenis alat yang digunakan dan taksiran produksi atau kapasitas produksinya.
2. Perhitungan volume pekerjaan
3. Kemampuan kerja alat pada kondisi material yang ada.
Jadi dengan tidak sesuainya alat dengan kondisi material, akan
menimbulkan kesulitan berupa tidak efisiensinya alat berat, yang
otomatis akan menimbulkan kerugian karena banyaknya waktu yang terbuang
(loss time).
Baberapa sifat phisik material dan kondisi medan kerja yang penting untuk siperhatikan dalam pekerjaan pemindahan tanah adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan Material
2. Berat Material
3. Bentuk Material
4. Kohesivitas Material
5. Kekerasan Material Daya Dukung Tanah
Pengembangan Material
Baberapa sifat phisik material dan kondisi medan kerja yang penting untuk siperhatikan dalam pekerjaan pemindahan tanah adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan Material
2. Berat Material
3. Bentuk Material
4. Kohesivitas Material
5. Kekerasan Material Daya Dukung Tanah
Yang dimaksud dengan pengembangan material adalah perubahan berupa
penambahan atau pengurangan material/tanah yang diganggu dari bentuk
aslinya. Dari faktor tersebut kondisi material dibagi dalam tiga bagian.
Seperti pada gambar 1 berikut ini :
GAMBAR 1
a) Keadaan asli (Bank condition)
Keadaan material yang masih alami dan belum mengalami gangguan teknologi dinamakan keadaan asli (Bank). Dalam keadaan seperti ini, butiran-butiran yang dikandungnya masih terkonsilidasi dengan baik. Satian volume material dalam kondisi asli disebut meter kubik dalam keadaan asli (Bank Cubic Meter atau BCM)
b) Keadaan gembur (loose condition)
Material yang telah digali dari tempat asalnya, akan mengalami perubahan volume, yaitu mengembang. Hal ini disebabkan adanya penambahan rongga-rongga udara pada butiran-butiran tanah. Dengan demikian volumenya bertambah besar. Satuan volume material dalam kondisi gembur umumnya disebut meter kubik dalam keadaan gembur (Loose Cubic Meter atau LCM)
c) Keadaan padat (Compact condition)
Keadaan ini akan dialami oleh material yang mengalami proses pemadatan (pemampatan). Perubahan volume terjadi, karena adanya penyusutan rongga udara diantara partikel-partikel material tersebut. Dengan demikian volumenya berkurang, sedangkan beratnya tetap. Satuan material dalam kondisi padat disebut meter kubik dalam keadaan padat (Compact Cubic Meter atau CCM).
Dalam perhitungan produksi, material yang didorong/digusur dengan blade, yang dimuat dengan bucket atau vessel, kemudian ditebar adalah dalam kondisi gembur. Untuk menghitung volume tanah sudah diganggu dari bentuk aslinya, dengan melakukan penggalian material tersebut, atau melakukan pemadatan dari material yang sudah gembur menjadi padat, perlu dikalikan dengan faktor yang disebut faktor konversi.
Contoh 1 : bila 300 BCM (Bank Cubic Meter) tanah biasa
asli digali sehingga menjadi gembur, maka berapa volumenya sekarang ?
Jawab : Dari
tabel faktor konversi, disapat data, bahwa tanah berpasir, faktor konversi dari
asli ke gembur adalah 1.25, maka volume sekarang menjadi,
volume
gembur = Volume asli x faktor
=
300 x 1.25
=
375 LCM (Loose Cubic Meter)
Contoh 2 : Ada 400
LCM tanah berpasir dalam keadaan gembur. Apabila kemudian tanah ini dipadatkan dengan compactor, maka
berapakah volume sekarang :
Jawab : Kembali
lihat tabel. Kemudian akan diperoleh faktor konversi tanah berpasir dari
gembur kepadat 0.72, maka :
Volume
padat = volume gembur x faktor
=
400 x 0.72
=
288 CCM (Compacted Cubik Meter)
Berat Material
Berat adalah sifat yang dimiliki oleh setiap material. Kemampuan suatu alat berat untuk melakukan pekerjaan seperti mendorong, mengangkat, mengangkut dan lain-lain, akan dipengaruhi oleh berat material tersebut. Seperti yang di alami oleh alat pada gambar 2, dibawah ini :
Waktu mengangkut tanah dengan berat 1.5 ton/m3, alat bekerja dengan baik. Tetapi pada saat mengangkut tanah dengan berat 1.8 ton/m3, ternyata alat angkut mengalami beban berat sehingga unit terlihat berat untuk menggelinding.
Bentuk Material
Faktor ini harus dipahami, karena akan berpengaruh terhadap banyak sedikitnya material tersebutdapat menempati suatu ruangan tertentu. Mengingat material yang kondisi butirannya kecil, kemungkinan isi dapat sama (senilai) dengan volume ruangan yang ditempatinya. Sedangkan material yang berbongkah-bongkah akan lebih kecil dari nilai volume ruangan yang ditempati.
Oleh karena itu, material jenis ini akan berbentuk rongga-rongga udara yang memakan sebagian isi ruangan. Beberapa material yang mampu ditampung oleh suatu ruangan dapat di hitung dengan caramengoreksi ruangan tersebut dengan suatu faktor yang disebut “faktor muat” :”Bucket Factor” atau “Pay Load Factor”.
Kohesivitas Material
Yang disebut kohesivitas material adalah daya lekat atau kemampuan saling mengikat diantara butir-butir material itu sendiri.
Kekerasan Material.
Material yang keras akan lebih sukar untuk di koyak, di gali atau di kupas oleh alat berat. Hal ini akan menurunkan produktivitas alat tersebut. Material yang tergolong keras adalah obat-batuan.
Aplikasi alat berat yang paling umum untuk material batu-batuan ialah : pembongkaran batu dengan cara ripping. Oleh karena itu sebelum menentukan alat berat yang akan digunakan meripping batuan, terlebih dahulu di tentukan tingkat appabilitasnya.
Metode untuk menentukan rippabilitas :
A. Mengklasifikasi jenis dan tekstur batuan.
Batuan sedimen
- Berbentuk lapisan-lapisan
- Semakin tipis lapisan semakin mudah di ripping
- Contoh : Sand stone, limestone, shale, konglomerate.
Batuan Beku
- Tidak membentuk perlapisan
- Relatif sulit untuk di ripping
- Contoh : Granite, basalt, andesite, dll.
Batuan Metamorfik
Tingkat rippabilitas batuan ditentukan oleh :
Mudah di ripping :
Sulit di ripping
B. Penentuan dengan pengujian di laboratorium.
C. Penentuan dengan pengujian di lokasi / lapangan.
- Berbeda-beda rippabilitasnya tergantung pada : tebal perlapisan dan kekuatan ikatan kristalnya
- Contoh : Gneiss, schist, kwarsit, dll.
- Tingkat pelapukan batuan
- Kekuatan ikatan kristal batuan
Mudah di ripping :
- Ada “fault” atau patahan
- Tingkat pelapukan tinggi
- Kristalnya mudah lepas.
- Memiliki banyak lapisan tipis.
- Memiliki retakan yang besar.
- Mengalami perembesan oleh air
- Memiliki pperlapisan vertikal.
Sulit di ripping
- Memiliki partikel-partikel kecil yang padat
- Memiliki cukup kadar air untuk memadatkan permukaan batu.
- Tidak ada retakan
- Masif dan homogenikatan kristalnya yang kuat.
B. Penentuan dengan pengujian di laboratorium.
- Dilakukan dengan cara uji kompresi dan kekerasan contoh batuan.
- Hasilnya lebih tinggi dari keadaan sebenarnya, karena : mengabaikan faktor-faktor yang ada di lapangan.
C. Penentuan dengan pengujian di lokasi / lapangan.
Metoda :
Secara sederhana gambaran seismik wave velocity test dilakukan seperti gambar berikut. Hasil bisa di ketahui kekerasan dan kedalaman masing-masing lapisan keras sampai yang lunak.
- Pengujian cepat rambat gelombang (seismic wave velocity/rippermeter test).
- Pengujian hambatan listrik
- Pengujian mekanis di lapangan.
Secara sederhana gambaran seismik wave velocity test dilakukan seperti gambar berikut. Hasil bisa di ketahui kekerasan dan kedalaman masing-masing lapisan keras sampai yang lunak.
Cara pengetesan :
Dengan menempatkan /sedikit tertanam alat ceophone a b c d e dengan
jarak tertentu kemudian dirangkaikan sedemikian rupa, ujung kabel pada
power source, satu lagi di hubungkan dengan peralatan khusus (Signal
Stacking Seismograph).Setelah power source dipukul beberapa kali, maka
akan diperoleh gambaran mengenai kekerasan material tersebut. Sehingga
dapat di simpulkan type alat berat yang cocok.
Daya Dukung Tanah
Adalah kemampuan tanah untukmendukung alat berat yang berlalu-lalang diatasnya. Apabila suatu alat berat berada di atas tanah, maka alat berat tersebut akan memberikan “Ground pressure”, sevangkan perlawanan yang diberikan adalah “Daya Dukung”. Jika ground pressure alat lebih besar dari daya dukung tanah, maka alat tersebut akan terbenam.
Nilai daya dukung tanah dapat diketahui dengan cara pengukuran/test
langsung di lapangan seperti gambar di atas. Alat yang umum digunakan
untuk test daya dukung tanah disebut “Cone Penetro Meter”.

























































Tambahkan komentar